Panduan Praktis: 10 Rumus Menghitung Ukuran Lot untuk Maksimalkan Profit

Pernah merasa trading seperti judi? Buka posisi asal-asalan, hasilnya untung-untungan?

Masalahnya bukan pada strategi entry atau exit, tapi pada tidak adanya sistem penghitungan ukuran posisi yang jelas. Kebanyakan trader pemula mengandalkan insting atau “feeling” dalam menentukan berapa lot yang akan dibuka. Akibatnya? Satu loss besar bisa menghapus profit seminggu. Rumus position sizing adalah solusi matematis yang mengubah trading dari gambling menjadi bisnis terukur. Artikel ini akan membedah 10 rumus position sizing yang sudah terbukti dipakai trader profesional untuk melindungi modal dan mengoptimalkan return.


1. Rumus Position Sizing Dasar (Basic Formula)

Rumus paling fundamental yang harus kamu kuasai adalah formula dasar position sizing. Rumus ini menjadi pondasi dari semua metode penghitungan lainnya.

Formula:
Position Size = (Account Balance × Risk Percentage) ÷ Stop Loss Distance

Contoh penerapan: Modal Rp 20 juta, risk 2% per trade (Rp 400.000), stop loss 50 pips dari entry. Jika nilai 1 pip = Rp 100.000 per lot standar, maka stop loss distance = 50 × Rp 100.000 = Rp 5.000.000.

Position Size = Rp 400.000 ÷ Rp 5.000.000 = 0.08 lot

Rumus ini berlaku universal untuk semua jenis aset—forex, saham, komoditas, hingga cryptocurrency. Yang membedakan hanya satuan perhitungan (pips, poin, atau persentase) dan nilai per unit. Kunci utamanya adalah konsistensi: selalu hitung sebelum membuka posisi, bukan setelah entry lalu menyesal.


2. Rumus Fixed Ratio (Rasio Tetap)

Fixed Ratio adalah metode di mana kamu menaikkan ukuran posisi setelah mencapai profit tertentu. Rumus ini dikembangkan oleh Ryan Jones untuk mengoptimalkan pertumbuhan modal secara konservatif.

Formula:
Delta = (Current Contracts – Previous Contracts) × Dollar per Contract

Next Level = Previous Level + (Delta × Number of Contracts)

Metode ini membutuhkan target profit tetap sebelum menaikkan ukuran lot. Misalnya, kamu mulai dengan 1 lot dan menetapkan delta Rp 5 juta. Setelah profit kumulatif mencapai Rp 5 juta, naik jadi 2 lot. Setelah profit lagi Rp 10 juta (5 juta × 2 lot), naik jadi 3 lot.

Keunggulan Fixed Ratio adalah pertumbuhan modal lebih terkontrol dibanding metode agresif lainnya. Kerugiannya, butuh waktu lebih lama untuk scaling up. Cocok untuk trader yang mengutamakan keamanan modal dan pertumbuhan jangka panjang dengan risiko minimal.


3. Rumus Fixed Fractional (Fraksi Tetap)

Fixed Fractional adalah rumus paling populer di kalangan trader profesional karena secara otomatis menyesuaikan ukuran posisi dengan modal aktual.

Formula:
Position Size = (Current Account Balance × Risk %) ÷ (Stop Loss in Pips × Pip Value)

Yang membedakan dengan rumus dasar: di sini kamu selalu menggunakan balance terkini, bukan balance awal. Jadi kalau profit, posisi membesar. Kalau loss, posisi mengecil otomatis.

Contoh: Modal awal Rp 50 juta, risk 1%. Trade pertama risiko Rp 500.000. Setelah profit Rp 5 juta, balance jadi Rp 55 juta. Trade kedua risiko 1% × Rp 55 juta = Rp 550.000. Ukuran posisi naik seiring pertumbuhan modal.

Metode ini menghasilkan compounding effect yang powerful. Dalam setahun, dengan konsistensi profit 3% per bulan, modal bisa tumbuh eksponensial karena position size terus membesar. Tapi ingat, ini juga berarti saat loss, modal akan menyusut lebih cepat di awal recovery.


4. Rumus Kelly Criterion

Kelly Criterion adalah rumus matematis yang menghitung ukuran posisi optimal berdasarkan probabilitas menang dan risk-reward ratio. Dikembangkan oleh John Kelly Jr. pada 1956 untuk sistem taruhan.

Formula:
f = (p × b – q) ÷ b

Keterangan:

  • f = fraksi modal yang harus dipertaruhkan
  • p = probabilitas menang (win rate)
  • q = probabilitas kalah (1 – p)
  • b = risk-reward ratio (profit ÷ loss)

Contoh: Win rate 60% (0.6), risk-reward 1:2 (b = 2).
f = (0.6 × 2 – 0.4) ÷ 2 = 0.4 atau 40% modal

Hati-hati! Kelly Criterion murni sangat agresif. Kebanyakan trader menggunakan Half Kelly (f ÷ 2) atau Quarter Kelly (f ÷ 4) untuk mengurangi volatilitas drawdown. Dengan Half Kelly dari contoh di atas, risiko jadi 20% per trade—masih cukup agresif tapi lebih aman.


5. Rumus ATR-Based Position Sizing

Average True Range (ATR) adalah indikator volatilitas yang mengukur rata-rata pergerakan harga. Rumus ATR-based menyesuaikan ukuran posisi dengan kondisi market.

Formula:
Position Size = (Account Risk in Currency) ÷ (ATR × ATR Multiplier × Pip Value)

ATR Multiplier biasanya 2-3 kali ATR untuk menentukan jarak stop loss dinamis. Semakin tinggi volatilitas (ATR besar), semakin kecil position size agar risiko tetap terkontrol.

Contoh: Modal Rp 100 juta, risk 2% (Rp 2 juta), ATR EUR/USD = 60 pips, multiplier 2.5. Stop loss = 60 × 2.5 = 150 pips. Nilai 1 pip = Rp 100.000/lot.

Position Size = Rp 2.000.000 ÷ (150 × Rp 100.000) = 0.13 lot

Metode ini sangat adaptif terhadap perubahan kondisi market. Saat market sideways (ATR kecil), posisi bisa lebih besar. Saat market chaos (ATR besar), posisi otomatis mengecil untuk proteksi maksimal.


6. Rumus Percent Volatility

Percent Volatility menghitung position size berdasarkan persentase pergerakan harga historis. Cocok untuk trading saham dan cryptocurrency yang tidak menggunakan sistem pips.

Formula:
Position Size = (Account Risk) ÷ (Entry Price × Historical Volatility % × Number of Shares)

Historical volatility bisa dihitung dari standard deviasi harga 20-30 hari terakhir. Atau bisa gunakan Average Percent Range sebagai alternatif sederhana.

Contoh: Modal Rp 50 juta, risk 1.5% (Rp 750.000). Beli saham di Rp 5.000, volatility harian rata-rata 3%. Stop loss di 1.5× volatility = 4.5%.

Risiko per lembar = Rp 5.000 × 4.5% = Rp 225
Position Size = Rp 750.000 ÷ Rp 225 = 3.333 lembar (33 lot)

Rumus ini memastikan kamu tidak over-expose di saham yang sangat volatil. Semakin liar pergerakan harganya, semakin kecil alokasi modal—prinsip risk management yang sehat.


7. Rumus Equity Curve Trading

Equity Curve Trading adalah metode yang menyesuaikan position size berdasarkan performa trading terkini. Kalau lagi winning streak, posisi diperbesar. Kalau losing streak, posisi diperkecil.

Formula:
Adjusted Position Size = Base Position Size × (Current Equity ÷ Moving Average Equity)

Moving Average Equity biasanya pakai MA 20-50 dari balance harian. Kalau equity di atas MA (trending naik), multiplier > 1. Kalau di bawah MA (trending turun), multiplier < 1.

Contoh: Base position 0.1 lot, equity saat ini Rp 52 juta, MA equity Rp 50 juta.
Adjusted Size = 0.1 × (52 ÷ 50) = 0.104 lot

Metode ini mengurangi risiko saat performance sedang buruk dan memanfaatkan momentum saat performa sedang bagus. Tapi berhati-hatilah dengan false signal—kadang equity turun karena faktor acak, bukan karena sistem trading bermasalah.


8. Rumus Margin-Based Sizing

Untuk trading dengan leverage (forex, CFD), kamu harus memastikan margin requirement tidak membahayakan akun. Rumus ini menghitung position size berdasarkan margin yang tersedia.

Formula:
Maximum Position Size = (Free Margin × Leverage) ÷ (Contract Size × Current Price)

Safe Position Size = Maximum Position Size × Safety Factor (biasanya 0.3-0.5)

Contoh: Free margin Rp 30 juta, leverage 1:100, trading EUR/USD di 1.1000, contract size 100.000.
Max Size = (30.000.000 × 100) ÷ (100.000 × 1.1) = 27.27 lot

Tapi ini maksimum teoretis! Dengan safety factor 0.3, Safe Size = 27.27 × 0.3 = 8.18 lot

Jangan pernah trading dengan margin utilization di atas 50%. Sisakan ruang untuk fluktuasi harga agar tidak terkena margin call saat market bergerak lawan posisi. Rule of thumb: free margin harus minimal 2× margin terpakai.


9. Rumus Risk-Reward Based Sizing

Rumus ini mempertimbangkan target profit dalam menentukan position size, bukan hanya risiko. Cocok untuk trader yang punya strategi dengan risk-reward ratio konsisten.

Formula:
Position Size = Total Risk Capital ÷ [(Stop Loss Distance × Pip Value) + (Reward Distance × Pip Value × Win Rate Inverse)]

Versi sederhana:
Position Size = (Account Risk) ÷ [Stop Loss Distance × (1 + (Reward ÷ Risk) × (1 – Win Rate))]

Contoh: Modal Rp 40 juta, risk 2% (Rp 800.000), stop loss 40 pips, target 120 pips (RR 1:3), win rate 50%.

Position Size = Rp 800.000 ÷ [40 × (1 + 3 × 0.5)] = Rp 800.000 ÷ 100 = 0.08 lot (dengan pip value Rp 100.000)

Rumus ini lebih konservatif karena memperhitungkan bahwa tidak semua trade akan hit target. Semakin rendah win rate, semakin kecil position size yang disarankan.


10. Rumus Optimal f (Larry Williams)

Optimal f adalah metode advanced dari Larry Williams yang mencari fraksi modal optimal untuk dimaksimalkan berdasarkan historical trade data. Butuh minimal 30-50 trade history.

Formula:
f = -1 ÷ (Largest Loss × Number of Trades)*

Optimal Position = (Account Balance × f) ÷ (Entry Price × Stop Loss %)*

Untuk menghitung f* yang lebih akurat, butuh simulasi Monte Carlo atau software khusus. Metode manual:

  1. Urutkan semua hasil trade dari profit terbesar ke loss terbesar
  2. Hitung HPR (Holding Period Return) untuk setiap f dari 0.1 hingga 1
  3. Pilih f yang menghasilkan TWR (Terminal Wealth Relative) tertinggi

Optimal f sangat powerful tapi juga sangat agresif. Hasilnya bisa mencapai 30-60% modal per trade jika track record sangat bagus. Kebanyakan trader pakai 25-50% dari Optimal f untuk keamanan. Metode ini hanya cocok untuk trader berpengalaman dengan sistem yang sudah teruji.


Kesimpulan

Menguasai rumus position sizing adalah keharusan, bukan pilihan, jika kamu serius ingin menjadi trader profitable. Dari 10 rumus di atas, tidak ada yang paling sempurna—semuanya punya kelebihan dan kekurangan tergantung gaya trading dan tingkat risiko yang nyaman buatmu.

Rekomendasi praktis: Mulai dengan Fixed Fractional (rumus #3) karena paling mudah dipahami dan efektif. Setelah mahir, eksplorasi ATR-Based atau Kelly Criterion untuk optimalisasi lebih lanjut. Yang terpenting, konsisten menerapkan rumus yang sudah dipilih—jangan ganti-ganti metode setiap minggu.

Action time! Pilih satu rumus dari artikel ini, terapkan di 10 trade berikutnya, dan dokumentasikan hasilnya. Bagaimana hasil penerapan rumus position sizing-mu? Ada pertanyaan atau pengalaman menarik? Share di kolom komentar dan mari diskusi! Jangan lupa bagikan artikel ini ke sesama trader yang masih berjuang mencari formula tepat untuk money management mereka.

Leave a Comment